Monday, May 31, 2010

IKUT ISLAM ATAU IKUT SYAITAN? Judi ikut syaitan.


Airport Jeddah
R&R solat suboh
Masyaallah Fajar menyinsing pagi

Alhamdulliah
Kota Madinah

Hj Jainneh Yamin dan Roseni Jemaah dari sabah

dalam masjid nabawi

luar masjid


Nokia
Tiada di pasaran lagi
Pemiliknya Ust Naim Madinah







video

Sunday, May 30, 2010

NUSYUZ - Isteri derhaka atau Suami Zalim?


Al Fatihah buat Hj Zulkifli KSB Travel
meninggal dunia pada sabtu 29 Mei
kenangan bersama beliau dan sahabat lain
pada 8 April lalu di felda d saji Mekah

NUSYUZ

Nusyuz secara bahasa adalah ketidakpatuhan, diambil dari an-Nasyz yang berarti tanah yang tinggi, ketidakpatuhan disebut nusyuz karena pelakunya merasa lebih tinggi sehingga dia tidak merasa perlu untuk patuh.

Nusyuz dalam istilah rumah tangga adalah kebencian suami isteri kepada pasangannya. Wanita itu nusyuz kepada suaminya jika dia tidak patuh kepadanya, suami nusyuz kepada isteri jika dia memperlakukannya dengan buruk dan berpaling darinya.


Nusyuz adalah keadaan yang terjadi pada suami atau isteri dalam bentuk ketidakharmonian, kerenggangan, ketidaksukaan, penolakan, ketidakpatuhan dan kedurhakaan dari isteri atau berpaling dari suami.


Allah Subhanahu waTa’ala telah mensyariatkan sebuah solusi bijak untuk mengatasi problem rumah tangga ini sesuai dengan perkembangan dan kondisi lapangan dengan menggunakan kelembutan, ketenangan dan kesabaran, Allah tidak memerintahkan memutus hubungan di antara suami istri dengan talak atau khulu’ secara langsung, akan tetapi Dia memberikan arahan-arahan kepada suami dan isteri untuk mengulangi tanda-tanda nusyuz pada tahapnya yang pertama.

Nusyuz suami
Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Nisa`: 128).

Kekhawatiran adalah dugaan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan dengan terlihatnya sebagian tanda-tandanya atau indikasi-insikasinya. Dalam kondisi semacam ini, maka ayat di atas mengarahkan kepada suami isteri untuk melakukan islah/ kesepakatan damai sekalipun salah satu pihak harus mundur dari haknya dan pihak lain mendapatkan lebih, hal ini demi keutuhan rumah tangga.

Aisyah menjelaskan sifat nusyuz dari suami dan cara mengatasinya, dia berkata tentang firman Allah, artinya, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.” Aisyah berkata, “Dia adalah wanita yang bersuami, suami tidak mempedulikannya, dia ingin mentalaknya dan menikahi wanita lain, maka isteri berkata kepada suami, ‘Biarkan aku bersamamu, jangan menceraikanku, silakan menikah dengan yang lain, aku tidak menuntut nafkah darimu dan pembagian, itulah firman Allah Subhanahu waTa’ala, artinya, “Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).”


Berdamai bisa tercapai pada sesuatu yang merupakan hak suami, dan hak isteri atas suami adalah mahar, nafkah dan hak bermalam, isteri berhak menuntut tiga perkara ini dari suami, suami rela atau tidak. Adapun hubungan suami isteri, maka isteri memiliki hak padanya untuk menjaga dan melindunginya dari perkara-perkara yang haram.
Perdamaian di sini bisa dengan pengembalian mahar, semuanya atau sebagian, atau isteri menggugurkan kewajiban nafkah dari suami, atau menggugurkan jatah bermalam. Tujuan isteri melakukan ini adalah agar suami tidak mentalaknya, jika hal ini disepakati oleh keduanya, maka ia sah.


Dalam kondisi ini isteri disarankan bersabar, bersikap bijak dan bertindak dengan cermat, jika dia mencium gelagat kebencian dan ketidakpedulian dari suami demi menjaga ikatan pernikahan, dengan kebijakan, kepintaran dan perasaannya sebagai wanita dia bisa mengetahui sebab berpalingnya dan sikap acuh suami, lalu dia berusaha menepis sebab-sebab ini, memperbaiki keadaan dan menemukan tempat-tempat penyakit dan persoalan untuk diubati.

Tidak semua sikap acuh suami tergolong nusyuz, ada banyak persoalan hidup yang penting yang menyibukkan fikirannya, menyita waktu dan tenaganya dalam jumlah besar, seperti persoalan-persoalan ekonomi, sosial dan lainnya di mana tenaga dan dayanya terfokus kepadanya sehingga suami pulang kepada isteri dalam keadaan sangat letih dan lelah akibatnya suami tidak bisa berkelakar, berbincang malam dan memberinya kehangatan, maka wajib atas isteri mengetahui sebab-sebab ini dengan jelas dan memastikan problem nusyuz dan sikap acuh suami yang dia rasakan dan dia lihat, jika persoalannya seperti ini atau ada sebab lain yang bersifat insidentil, maka istri harus bersabar dan menerima sampai sebab-sebab tersebut hilang dengan sendirinya.

Di samping bersabar, isteri juga harus membantunya, jika dia memang mampu untuk itu, menyediakan iklim kejiwaan dan ketenangan rohani dalam rumah, mengikis kesedihan dan kesusahan dari suami dengan kelembutan, kasih sayang dan keceriaannya, menghapus duka dan kelelahan yang dia dapatkan dalam pekerjaannya di luar dengan senyuman yang tulus dan jiwa yang optimis, menggugah kembali sikap optimis, ketenangan, semangat dan pantang menyerah dalam jiwa suami. Biasanya sebab-sebab seperti ini akan lenyap, jika isteri memperhatikan hal-hal seperti ini dalam kehidupan rumah tangganya.

Jika ternyata suami berpaling dan menghindar karena sesuatu pada isteri yang tidak dia sukai, maka isteri harus memperbaiki keadaannya, memperhatikan apa yang dipandang dan dicium suami, berusaha menghilangkan sebab-sebab kebencian yang merupakan sebab terpenting mengapa suami berpaling dan menjauh. Jika seluruh usaha tidak berhasil dan suami tetap berpaling dan bersikap nusyuz, maka solusinya adalah apa yang tertera dalam ayat yang mulia, “Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.” Yakni tidak mengapa keduanya berdamai di atas sesuatu kesepakatan, seperti isteri tidak menuntut sebagian haknya dalam mahar, nafkah atau bermalam, agar isteri tetap menjadi isteri, atau isteri mengembalikan mahar untuk berkhulu’ darinya, jika dia tidak mampu bersabar, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala, artinya, “Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. al-Baqarah: 229).

Dengan syarat dalam perkara ini suami tidak berlaku aniaya yang membuat isteri terpaksa berkhulu’ sehingga suami berhasil mengambil kembali mahar dari isteri, kecuali jika khulu’ ini dengan kerelaan istri dan dia meyakini, bahwa ia lebih baik baginya.

Al-Qurthubi menjelaskan tentang penentuan perdamaian, di mana Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” Al-Qurthubi berkata, “ Perdamaian adalah kata umum lagi mutlak yang berarti bahwa perdamaian hakiki di mana jiwa tenteram kepadanya dan perselisihan terangkat adalah lebih baik daripada talak, termasuk dalam makna ini semua kesepakatan yang disetujui oleh suami dan isteri, dalam bentuk harta atau bermalam atau selainnya. ‘Lebih baik’ yakni lebih baik daripada perpisahan, mempertahankan perselisihan, permusuhan dan kebencian, semua itu termasuk dasar dari keburukan.”

Islam mengajak suami isteri untuk memberikan segala upaya untuk mengokohkan pondasi-pondasi kehidupan mereka berdua dan menguatkan ikatannya, karena ikatan suami isteri termasuk ikatan teragung dan paling patut dijaga, perjanjiannya adalah perjanjian paling berat dan paling berhak untuk dipenuhi.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Dan mereka (para isteri) telah mengambil darimu perjanjian yang kuat.” (QS. an-Nisa`: 21).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallambersabda,“Sesungguhnya syarat yang paling patut untuk dipenuhi adalah akad yang dengannya kalian boleh berhubungan suami isteri.” (HR.al-Bukhari & Muslim).
Sumber : alSofwah : Ust. Izzudin Karimi, Lc).


Kerusi roda untuk yg kurang upaya tawaf, saei dan solat
Solat
Tawaf
Tawaf
sedang tawaf
Solat


Masih mencari pelangan untuk di tolak,Tawaf dan saei SR250



Menunggu waktu solat


Berzikir


video

Saturday, May 29, 2010

TAATILAH SUAMI MU ......... syurga menanti anda:-1


Pernikahan adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan dengan kadar yang sama dan berimbang, ia adalah wujud kecintaan, kasih sayang, mementingkan pasangan, saling memberi dan menerima, hal itu terbaca jelas dalam firman Allah Subhanahu waTa'ala,

وَمِنْ ءايَـتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَجاً لِّتَسْكُنُواْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِى ذَلِكَ لأَيَـتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. ar-Rum: 21).

Demi menjaga kelangsungan kasih sayang dan hubungan baik antara suami isteri maka Allah meletakkan hak bagi masing-masing atas pasangannya.

Firman Allah Subhanahu waTa'ala, وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِى عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوف
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ِ
, "…..Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya." (QS. al-Baqarah: 228).

Isteri mempunyai hak-hak atas suami yang tidak sedikit yang wajib diberikan oleh suami kepadanya, jika suami tidak menunaikannya, maka hal itu dianggap sebagai dosa dan kemaksiatan yang tidak ringan di sisi Allah. Sebaliknya suami memiliki hak-hak atas isteri sebanding dengan hak isteri atas suami, di antara hak-hak suami adalah hendaknya seorang wanita muslimah menjadi isteri yang patuh dan taat kepada suaminya dengan menunaikan hak-haknya sebaik-baiknya.

Besarnya hak suami atas isteri.
Hak suami atas isteri adalah besar, kedudukannya di hadapannya adalah agung, hal itu tergambar dengan jelas melalui:

A. Perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada isteri agar bersujud kepada suami seandainya makhluk boleh bersujud kepada makhluk. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain niscaya aku memerintahkan isteri agar bersujud kepada suaminya." (HR. at-Tirmidzi)

B. Murka yang di langit kepada isteri yang menolak permintaan suami untuk bermesra, murka ini hapus jika suami redha kepada isteri. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Demi dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidak ada seorang suami mengajak isteri ke ranjangnya lalu isterinya menolaknya kecuali yang di langit memurkainya sehingga suami redha kepadanya ."

C. Penunaian ibadah-ibadah sunnah oleh isteri bergantung kepada izin suami, jika ibadah-ibadah tersebut menghalangi hak suami. Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Tidak halal bagi wanita berpuasa sementara suaminya ada/hadir kecuali dengan izinnya. Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."

Khusus dalam hal ini terdapat teladan dari Aisyah radiyallahu 'anha isteri Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam, Aisyah berkata, "Aku pernah berhutang puasa Ramadhan, aku baru bisa melunasinya di bulan Sya'ban hal itu karena kedudukan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Jamaah).

D. Menghadirkan seseorang di rumah suami bergantung kepada restu suami. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu 'anhu di atas, "Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."

E. Izin khulu' -menuntut berpisah dari isteri dengan membayar iwadh (ganti rugi)- dalam kondisi isteri takut tidak mampu menunaikan hak-hak suami seperti yang dilakukan oleh isteri Tsabit bin Qais. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbasz berkata, isteri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata, "Ya Rasulullah, aku tidak membenci agama dan akhlak Tsabit, hanya saja aku takut kufur dalam Islam." Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kamu mahu mengembalikan kebunnya kepadanya?" Dia menjawab, "Ya." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta Tsabit berpisah darinya. Apa yang dilakukan isteri Tsabit ini merupakan tindak lanjut dari firman Allah Subhanahu waTa'ala,

وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُواْ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلاَّ أَن يَخَافَآ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ
, "Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahawa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya." (QS. al-Baqarah: 229).

F. Ihdad (berkabung) hanya boleh tiga hari tetapi untuk suami -maksudnya jika suami yang meninggal- maka masa ihdad lebih panjang iaitu empat bulan sepuluh hari.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berihdad atas mayat lebih dari tiga malam kecuali atas suami iaitu empat bulan sepuluh hari." (Muttafaq alaihi).

G. Tatanan iddah (masa tunggu) bagi isteri yang berpisah dari suami, di mana dalam masa ini isteri belum boleh menerima lamaran dari orang lain karena hak suami dan suami tetap dinamakan suami yang memegang hak rujuk jika berpisahnya masih memungkinkan untuk rujuk.
firman Allah Subhanahu waTa'ala,

﴿وَالْمُطَلَّقَـتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَـثَةَ قُرُوءٍ وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِى أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاٌّخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُواْ إِصْلَـحاً
"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah." (QS. al-Baqarah: 228).
- bersambung
jerubu mendung panas








Safwah Tower
Zam zam tower
Dar Al Tauhid
Hilton
Proton Gen2 berhampiran masjidil haram

Terima kasih di atas pemberian kitab "Indahnya HidupBersyariat"
Boxhouse

video